Nama : Jamaliah
NIM : 11901127
Kelas
: PAI 4A
Makul
: Magang 1
Dosen
Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd.
Pengertian
Kultur Sekolah
Kultur
sekolah yang dikemukakan oleh Deal & Peterson (2011), “School culture is
the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and
stories that make up the persona of the school. These unwritten expectation
build up over time as teachers, administratirs, parents, and students work
together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with
failurues, For examples, every school has a set of expectations about wjat can
be discussed at staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how
willing the staff is to change, and the importance of staff development. School
culture is also the way they think their schools and deal with the culture in
which they work”. Artinya, budaya sekolah merupakan himpunan normanorma,
nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk
persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu
sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan
masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki
seperangkat harapan tentang apa yang
dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya
pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah
dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja.
Menurut
Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah adalah, “School cultures are complex
webs of traditions and rituals that have been built up over time as teachers,
students, parents, and administrators work together and deal with crises and
accomplishments. Cultural patterns are highly enduring, have a powerful impact
on performance, and shape the essays people think, act, and feel”. Artinya,
budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah
dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang
bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi,
memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir,
bertindak, dan merasa.
Menurut
Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa,
dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan
sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard
Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang
diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal,
satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang
berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu
merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang
sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan.
Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya
seringkali tidak hadir dalam diskusidiskusi tentang upaya perbaikan sekolah.
Kebudayaan
sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material
hingga yang konkrit/material, yaitu:
1.
Nilai-nilai
moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
2.
Pribadi-pribadi
yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching
specialist, dan tenaga administrasi.
3.
Kurikulum
sekolah yang memuat gagasangagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan
program pendidikan.
4.
Letak,
lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan
perlengkapan lainnya.
Sekolah
berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh
karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum.
Namun demikian, di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu.
Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun
mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu sub-kebudayaan/sub-culture
(Nasution, 1999). Timbulnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi karena sebagian
besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa.
Implikasi
Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah
Aspek-aspek
kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:
1.
Visi
dan Nilai (Vision and Values)
Kouzes dan
Posner (Locke, et.al. 1991) mendefinisikan visi: “Vision as an ideal and
unique image of the future”. Sedangkan Hickman & Silva
mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown,
creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers,
and opportunities”.Visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan
atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan.
Nilai, secara
sosiologis/antropologis, dapat didefinisikan: “A value is a conception,
explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a
group, of a desirable which influence the selection from available modes,
means, and ends of action”(Kluckhohn dalam Enz, 1986). Nilai bukan sekedar
sebuah preferensi, melainkan merupakan persenyawaan dari pemikiran, perasaan,
dan preferensi.
Menurut Parsons
& Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan
evaluatif.
Menurut Harrison
& Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik yang
merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi misalnya nilai
patriotisme dan nilai instrumental yang merupakan nilai yang didukung karena
menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam
budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma
yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat
dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.
2.
Upacara
dan Perayaan (Ritual and Ceremony)
Upacara,
tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang
relevan dengan budaya. Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan
secara sederhana untuk me-recharge esprit de corps yang dimiliki sekolah untuk
menggelorakan visi dan spirit sekolah.
3.
Sejarah
dan Cerita (History and Stories)
Sejarah dan
cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus
pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang
turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Dengan kata lain, romantisme
masa lalu dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.
4.
Arsitektur
dan Artefak (Architecture and Artifacts)
Sekolah biasanya memiliki
simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap
sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam
sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area
sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk
memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama
sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan inspiratif
lainnya.
Selanjutnya
disajikan sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa kultur sekolah memiliki
implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal &
Peterson (2011). Namun demikian, dalam praktiknya kultur sekolah seringkali
justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain:
1.
Culture
fosters school effectiveness and productivity
(Budaya mendorong terwujudnya efektivitas dan produktivitas sekolah).
Guru dapat
berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya
perbaikan. Budaya membantu para guru dalam mengatasi ketidakpastian pekerjaan
mereka dengan memberikan fokus pada kolegialitas.
2.
Culture
improves collegial and collaborative activities that fosters better
communication and problem solving practices
(Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan
komunikasi dan praktik pemecahan masalah).
Di sekolah,
budaya menghargai kolegialitas dan kolaborasi. Terdapat iklim yang lebih baik
untuk mempertukarkan ide-ide sosial dan profesional, peningkatan dan penyebaran
praktik-praktik yang efektif, dan meluas pada pemecahan masalah profesional.
3.
Culture
fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).
Budaya beracun
(toxic culture) mendukung mediokritas dan sikap apatis, yang tidak
mungkin mendorong inovasi. Sebaliknya, di sekolah-sekolah yang menganut
norma-norma kinerja perubahan, para staf dengan senang hati bereksperimen
dengan menggunakan pendekatan baru, menemukan praktik-praktik inovatif untuk
memecahkan masalah, dan memperkuat visi pembelajaran yang berfokus pada
perbaikan sekolah.
4.
Culture
builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa
dan tenaga administrasi).
Orang-orang
termotivasi dan merasa berkomitmen pada suatu organisasi yang memiliki makna,
nilainilai, sebuah tujuan yang memuliakan. Komitmen tumbuh dengan kuat dan
memelihara kultur sosial.
5.
Culture
amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and
community (Budaya menguatkan energi,
motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat).
Iklim sosial
budaya berpengaruh terhadap orientasi emosional dan psikologis para staf. Dalam
sejumlah kasus, sekolah yang memiliki spirit optimis memiliki iklim yang
positif, bersemangat, menghargai, dan mendorong.
6.
Culture
increases the focus of daily behavior and attention on what is important and
valued (Budaya meningkatkan fokus pada
perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga).
Meskipun aturan, job-description,
dan kebijakan dapat membentuk dan mempengaruhi perilaku seseorang, namun dalam
aturan yang tidak tertulis maupun kebiasaan dan tradisi dalam kehidupan
sehari-hari, seringkali justru lebih bermakna dalam mendorong aktivitas dan
kemajuan yang berkelanjutan di sekolah. Asumsi-asumsi tersembunyi yang melekat
dalam pola budaya lebih intensif. Dengan nilai yang kuat dan bermakna,
pekerjaan sehari- hari menjadi lebih berfokus pada isu-isu penting seperti:
kualitas pembelajaran, pengajaran yang kontinyu, dan akselerasi belajar bagi
seluruh siswa.
Praktik
Pengembangan Kultur Sekolah
1.
Prestasi
Akademik
Di sekolah yang
menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic
athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik. Prestasi
akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang
dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai
prestasi akademik daripada prestasi lainnya.
2.
Non-Akademik
Prestasi
non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai
prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan
demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space)
yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi,
berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan
sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang
bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya, kesuksesan
seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki,
melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.
3.
Karakter
Karakter
berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan
karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau
lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan
kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang
berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari
dalam, bukan karena paksaan dari luar (HB X, 2012). Adapun variasi nilai
karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang
kondusif bagi pengembangannilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan,
kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.
4.
Kelestarian
Lingkungan Hidup
Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan. Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.
Ariefa Efianingrum. Kultur Sekolah. Jurnal Pemikiran Sosiologi. Vol.2 no.1. 2013.