Nama
: Jamaliah
NIM : 11901127
Kelas
: PAI 4A
Makul
: Magang 1
Dosen
Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd.
Karakteristik
Peserta Didik
Pengertian
Karakteristik Peserta Didik
Analisis kemampuan awal peserta didik merupakan kegiatan
mengidentifikasi peserta didik dari segi kebutuhan dan karakteristik untuk
menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku atau tujuan dan
materi. Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagai ciri dari kualitas
perorangan peserta didik yang ada pada umumnya meliputi antara lain kemampuan
akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi
terhadap mata pelajaran, pengalaman, ketrampilan, psikomotorik,
kemampuan kerjasama, serta kemampuan sosial (Atwi Suparman, 2001: 123).
Selain itu, terdapat juga karakteristik khusus yang disebut dengan
non konvesional yang meliputi kelompok minoritas (suku), cacat, serta tingkat
kedewasaan. Hal ini berpengaruh pada penggunaan bahasa, penghargaan atau
pengakuan, perlakuan khusus, dan metode strategi dalam proses pengajaran.
Ada dua karakteristik kemampuan awal peserta didik yang perlu
dipahami oleh guru yakni
1.
Latar
belakang akademik
a.
Jumlah
peserta didik
Guru perlu
mengetahui beberapa jumlah peserta didik yang akan diajar untuk mengetahui
apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap
jumlah peserta didik akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi,
metode, media, waktu yang dibutuhkan, dan evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan.
Untuk mengetahui jumlah peserta didik maka guru dapat berkoordinasi dengan
bagian akademik.
b.
Latar
belakang peserta didik
Pemahaman guru
terhadap latar belakang peserta didik seperti latar belakang keluarga, ekonomi,
tingkat hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh terhadap proses perumusan
perencaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang
peserta didik dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh peserta didik.
c.
Indeks
prestasi
Indeks prestasi
peserta didik juga menjadi penting untuk diketahui oleh guru, agar materi yangd
diberikan sesuai dengan kemampuan:
1)
Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki.
2)
Bahkan
peserta didik yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan
pada kelas yang sama.
3)
Guru
juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasaan dan kedalaman materi yang
disampaikan dengan prestasi yang dimiliki peserta didik. Untuk mengetahui
indeks prestasi peserta didik dapat diperoleh melalui nilai raport sebelumnya
atau seleksi kemampuan awal peserta didik yang diselenggarakan oleh lembaga.
d.
Tingkat
intelegensi Memahami tingkat intelegensi peserta didik juga dapat mengukur dan
memprediksi:
1)
Tingkat
kemampuan mereka dalam menerima materi pelajaran.
2)
Mengukur
tingkat kedalaman dan keluasan materi.
3)
Bahkan
dengan memahami tingkat intelegensi peserta didik guru dapat menyusun materi,
metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap tingkat intelegensi
peserta didik. Tingkat intelegensi peserta didik dapat diperoleh melalui tes
intelegensi peserta didik atau tes potensi akademik.
e.
Keterampilan
membaca
Salah satu
kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam belajar adalah ketrampilan
membaca. Ketrampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan peserta didik
dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka
baca. Untuk mengetahui tingkat ketrampilan membaca peserta didik dapat
dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu
yang telah ditentukan.
f.
Nilai
ujian
Nilai ujian
Juga dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal peserta
didik. Untuk memperoleh nilai ujian peserta didik perlu dilakukan kemampuan
awal peserta didik terhadap mata pelajaran yang diampu oleh guru yang
bersangkutan.
g.
Kebiasaan
belajar/ gaya belajar
Aspek lain yang
perlu diperhatikan oleh guru dalam proses pembelajaran adalah memahami gaya
belajar peserta didik atau disebut juga dengan learning style. Gaya belajar
mengacu pada cara belajar yang lebih disukai oleh peserta didik. Dalam proses
pembelajaran, banyak para peserta didik yang mengikuti belajar pada mata
pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama,
akantetapi mempunyai tingkat pemahaman
yang berbeda-beda. Adapun prinsip efektivitas pembelajaran adalah kesesuaian
pendekatan mengajar seorang guru dengan gaya belajar peserta didik.
h.
Minat
belajar
Minat belajar
juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam memahami karakteristik peserta
didik. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi atau melihat tingkat
antusias peserta didik terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu
guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum
seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat peserta didik terhadap mata
pelajaran yang akan disampaikan.
i.
Harapan
atau keinginan peserta didik
Harapan atau
keinginan peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa
dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal
ini dapat dilakukan dengan meminta peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya
tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana
yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang
disajikan.
j.
Lapangan
kerja yang diinginkan
Hal ini yang
dapat dilakukan dengan pengisian angket. Sehingga berdasarkan informasi ini
seorang guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap peserta didik dalam
upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan (Kemp, 1998: 131).
2.
Faktor-faktor
sosial
a.
Usia
Faktor usia
dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik peserta didik. Memahami
usia peserta didik akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran
yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak
tertentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak
remaja atau dewasa. Dalam praktik pendidikan dikenal dengan istilah paedagogi
dan andragogi. Pedagogi berasal dari bahasa yunani “paid” artinya anak dan “agogos”
artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan sebagai
ilmu dan seni mengajar anak-anak. Sedangkan andragogi berasal dari bahasa
yunani yakni “andra” artinya orang dewasa dan “agogos” artinya memimpin.
Definisi istilah andragogi kemudian dapat diartikan sebagai suatu seni dan ilmu
untuk membantu orang dewasa belajar.
b.
Kematangan
(maturity)
Kematangan juga
dapat diartikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik peserta didik,
dimana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam
menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia
atau kesiapan peserta didik. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini
disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang
bersifat kualitatif dari fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani
(Wasty Soemanto, 1983: 22). Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang
terjadi pada setiap fase kehidupan manusia, mengarah kepada terjadinya proses
kematangan. Kematangan ini mencakup:
1)
Kematangan
pre natal yakni anak yang berusia 2,5 – 9 tahun akan mengalami kematangan
fungsi syaraf serta refleksi untuk menggerakkan tubuh bayi.
2)
Perkembangan
vital yakni lahir, menangis, dan tak berdaya tetapi setelah mengalami fase
tersebut ketiga aspek diatas dapat berfungsi dan menjadi matang.
3)
Kematangan
ingatan yakni 2 – 3 tahun fungsi ingatan anak mulai berkembang, sehingga telah
mampu menerima kesan dan ingatan serta menuju kesempurnaannya pada usia
berikutnya.
4)
Kematangan
imajinasi yakni pada anak usia 3 – 4 tahun anak sudah merasa bahwa dirinya
merupakan kepentingan dari orang lain. Bahkan dia telah mulai menyadari bahwa
ia dibatasi oleh orang lain. Pada usia berikutnya imajinasi tersebut akan berkembang
menuju kematangannya.
5)
Kematangan
pengamatan yakni pada usia 4 – 6 tahun sudah berkembang fungsi pengamatan untuk
mengenal lingkungan sekitar, sehingga pada tahun-tahun berikutnya fungsi-fungsi
kematangan menjadi dominan.
6)
Kematangan
intelektual yakni pada anak usia 6 atau 7 tahun anak sudah mulai berfikir
secara logi, baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan fungsi
intelektual anak akan menuju kematangannya sering juga disebut proses pembelajaran
yang diperoleh.
Dengan demikian,
pemahaman guru terhadap fase-fase perkembangan atau kematangan psikologis
peserta didik dapat membantu guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran
peserta didik yang relevan dengan usia kematangan psikologis peserta didik
(Wasty Soemanto, 1983: 75).
c.
Rentangan
perhatian (attention span)
Rentang
perhatian peserta didik adalah jumlah waktu normal peserta didik dapat
berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Polio tahun 1984 terhadap mahasiswa menunjukkan
bahwa mereka dapat berkonsentrasi penuh sekitar 60 % dari jumlah waktu yang ada
(Hisyam Zaini, 2002: 116). Dengan demikian dapat dipahami bahwa memahami
rentang perhatian peserta didik dalam belajar akan menentukan kualitas
informasi yang diperoleh peserta didik dalam proses belajar.
d.
Bakat-
bakat istimewa
Sebagaimana
dipahami bahwa setiap peserta didik memiliki berbagai macam potensi yang
berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat
tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
e.
Hubungan
dengan sesama peserta didik
Berdasarkan
penelitian ilmiah yang dilakukan, bahwa interaksi antara guru dan peserta
didik, peserta didik dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara
sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik atau
interaktif lewat proses belajar mengajar. Peserta didik tidak lagi menjadi
objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari dengan
menyatakan bahwa peserta didik sebagai subjek didik, proses interaksi yang
menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar yang efektif (Bobbi Depoter,
2000: 19). Dengan demikian memahami
hubungan antar peserta didik bisa membantu para guru dalam mengembangkan
pendekatanpendekatan belajar yang bertumpu kepada kerjasama peserta didik dalam
proses belajar.
f.
Keadaan
sosial ekonomi
Pemahaman guru terhadap keadaan
sosial ekonomi para peserta didik juga dapat membantu guru dalam menentukan
pendekatan dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa
sebagian besar peserta didik mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan sumber
belajar, sebagai akibat dari rendahnya ekonomi dalam keluarga. Berkenaan dengan
hal itu, dibutuhkan kreatifitas guru dalam membuat atau menentukan sumber
belajar dan media yang terjangkau dan tersedia di lingkungan belajar para
peserta didik.
Manfaat
Memahami Peserta Didik
1.
Memperoleh
gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para peserta didik,
yang berfungsi sebagai pra syarat bagi bahan baru yang akan disampaikan.
Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu mudah atau tidak terlampau sulit bagi
peserta didik untuk mempelajarinya. Yang lebih baik ialah bahan baru tersebut
merupakan kelanjutan pra syarat yang telah dimiliki oleh peserta didik
sebelumnya. Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan
belajar secara optimal.
2.
Memperoleh
gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik.
Dengan berdasarkan pengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih
nyekrup dan memberikan contoh serta ilustrasi yang tidak asing bagi peserta
didik. Dengan demikian, peserta didik akan lebih mudah menerima dan menyerap
bahanbahan yang baru disajikan oleh para guru.
3.
Mengetahui
latar belakang sosial kultural para peserta didik, termasuk latar belakang keluarga,
seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi, dan
dimensidimensi kehidupan lainnya yang melatar-belakangi perkembangan sosial
emosional dan mental mereka. Dengan demikian para guru dapat memberikan bahan
yang lebih sesuai dengan metode yang lebih efisien.
4.
Mengetahui
tingkat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, baik jasmaniah maupun
rohaniah. Tingkat perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan
belajar dan cara belajar peserta didik. Dengan demikian guru dapat merancang
suatu rencana pengajaran yang lebih sesuai bagi mereka atas kesiapan membaca
dan menunjuk para perilaku yang harus diperoleh oleh peserta didik sebelum
peserta didik mulai membaca. Kematangan menunjuk pada pertumbuhan biologis yang
terjadi berkat pengaruh hereditas, misalnya pertumbuhan berat, tingkat badan,
besarnya otot, suara, dan lain-lain.
5.
Untuk
menentukan kelas-kelas tingkah laku awal ada tiga jenis alat yang dapat
digunakan, yaitu perangkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar, antara
yang satu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
6.
Mengetahui
aspirasi dan kebutuhan para peserta didik. Dengan cara itu guru dapat merancang
strategi yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara
individual maupun secara kelompok.
Langkah-langkah analisis kemampuan peserta didik. Ada tiga langkah
yang perlu dilakukan dalam mengadakan analisis kemampuan awal peserta didik
berupa:
1.
Melakukan
pengamatan atau observasi kepada peserta didik secara perorangan. Pengamatan ini
bisa dilakukan dengan menggunakan tes kemampuan awal, atau angket dan
wawancara. Tes (lisan atau tulis kolektif) kemampuan awal digunakan untuk
mengetahui konsep-konsep, prosedur-prosedur atau prinsip-prinsip yang telah
dikuasai oleh pembelajar yang terkait dengan konsep, prosedur, atau prinsip
yang akan diajarkan. Wawancara atau angket dapat digunakan untuk menggali
informasi mengenai kemampuan awal yang lain, seperti pengetahuan yang tidak
terorganissasi, pengetahuan pengalaman analogi, dan strategi kognitif.
2.
Tabulasi
karakteristik perorangan peserta didik. Hasil pengemasan yang dilakukan pada
langkah pertama ditabulasi untuk mendapatkan klasifikasi dan rinciannya. Hasil
tabulasi akan digunakan untuk daftar klasifikasi karakteristik menonjol yang
perlu diperhatikan dalam penetapan strategi pengelolaan.
3.
Pembuatan
daftar strategi karakteristik peserta didik. Daftar ini perlu dibuat sebagai
dasar menentukan strategi pengelolaan pembelajaran. Satu hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan daftar ini adalah daftar harus selalu disesuaikan
dengan kemajuan-kemajuan belajar yang dicapai pembelajar secara perorangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar