Nama : Jamaliah
NIM : 11901127
Kelas : PAI 4A
Makul : Magang 1
Dosen
Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd.
Manajemen
Kelas
A.
Pengertian
Manajemen Kelas
Manajemen
kelas berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari
kata bahasa Inggris yaitu management, yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan,
berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.
Sementara yang dimaksud kelas secara umum diartikan sebagai sebagai sekelompok
peserta didik yang ada pada waktu yang sama menerima pembelajaran yang sama
dari pendidik yang sama. Sebagian pengamat yang lain mengartikan kelas menjadi dua
pemaknaan, yaitu: Pertama, kelas dalam arti sempit, yaitu berupa ruangan
khusus, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar
mengajar. Kelas dalam hal ini mengandung sifat-sifat statis, karena sekedar
menunjuk pada adanya pengelompokan siswa berdasarkan batas umur kronologis
masing-masing. Kedua, kelas dalam arti luas, yaitu suatu masyarakat
kecil yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara kreatif
untuk mencapai tujuan.
Dengan
demikian, manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan
suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi
peserta didik dengan baik. Menurut Sudarman Danim, manajemen kelas yaitu:
1.
Manajemen
kelas adalah seni atau praktis (praktik dan strategi) kerja, yaitu pendidik
bekerja secara individu, dengan atau melalui orang lain (semisal bekerja dengan
sejawat atau peserta didik sendiri) untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi
penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Di sini sumber daya
kelas merupakan instrument, proses pembelajaran sebagai inti, dan hasil belajar
sebagaimana mestinya.
2.
Manajemen
kelas adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh
pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal dengan
sejawat atau peserta didik) untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Kata
perencanaan di sini merujuk pada perencanaan pembelajaran dan unsur-unsur
penunjangnya. Pelaksanaan bermakna proses pembelajaran, sedangkan evaluasi
bermakna evaluasi pembelajaran. Evaluasi di sini terdiri dua jenis. Evaluasi di
sini terdiri dari dua jenis, yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil
pembelajaran.
3.
Manajemen
kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan
yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang
lain (semisal sejawat atau peserta didik) untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang efektif dan efisien, dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang ada.
Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa dalam mewujudkan pengelolaan
kelas yang efektif tidak terlepas dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran, serta memanfaatkan sumber daya-sumber daya secara optimal.
Manajemen atau pengelolaan kelas telah mengalami pergeseran secara paradigmatik
meskipun esensi dan tujuannya relatif sama, yaitu terselenggaranya proses pembelajaran
secara efektif dan efisien. Efisien dan efektivitas pembelajaran diukur menurut
nilai-nilai pendidikan yang dianut dewasa ini. Adapun nilai-nilai yang dimaksud
bisa nilai-nilai perjuangan, kognitif, afeksi, solidaritas sosial, moralitas,
keagamaan, dan sebagainya yang dikaitkan dengan sumber daya yang digunakan.
Berdasarkan pendekatan operasional menurut Weber, manajemen kelas adalah:
1.
Seperangkat
kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas
melalui penggunaan disiplin.
2.
Seperangkat
kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas
melalui intimidasi.
3.
Seperangkat
kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa.
4.
Seperangkat
kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk yang
telah disajikan.
5.
Seperangkat
kegiatan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan
pembelajaran yanag bermutu dan dilaksanakan dengan baik.
6.
Seperangkat
kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan
dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan.
7.
Seperangkat
kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim
sosioemosional kelas yang positif.
8.
Seperangkat
kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang
efektif.
Berdasarkan definisi tersebut, maka kegiatan manajemen kelas
meliputi: mempertahankan ketertiban kelas, memaksimalkan kebebasan siswa dalam
konteks pembelajaran, perencanaan pembelajaran, mengembangkan tingkah laku
positif peserta didik, mengembangkan
hubungan interpersonal dan mewudkan iklim sosioemosional yang positif. Adapun
aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah sifat kelas,
pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif dan kreatif.
B.
Tujuan
Manajemen Kelas
Manajemen
kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam
pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, manajemen kelas juga bertujuan
untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman untuk tempat berlangsungnya proses
belajar mengajar. Dengan demikian, proses tersebut akan dapat berjalan dengan efektif
dan terarah, sehingga cita-cita pendidikan dapat tercapai demi terbentuknya
sumber daya manusia yang berkualitas.
Adapun
kegiatan pengelolaan fisik dan pengelolaan sosio-emosional merupakan bagian
dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan belajar siswa. Ketercapaian tujuan pengelolaan
kelas seperti dikemukakan oleh A. C. Wraag dapat dideteksi atau dilihat dari: “Anak-anak
memberikan respon yang setimpal terhadap perlakuan yang sopan dan penuh perhatian
dari orang dewasa atau guru. Mereka akan bekerja dengan rajin dan penuh konsentrasi
dalam melakukan tugas-tugasnya yang sesuai dengan kemampuannya.”
Tujuan
manajemen kelas menurut Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen adalah:
1.
Mewujudkan
situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai
kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan
semaksimal mungkin.
2.
Menghilangkan
berbagai hambatan yang dapat menghalangi terjadinya interaksi pembelajaran.
Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan
memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan
intelektual siswa dalam kelas.
3.
Membina
dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta
sifat-sifat individualnya.
Apabila tujuan dari manajemen kelas sudah tercapai, maka ada dua kemungkinan
yang akan dialami oleh siswa sebagai indikator keberhasilan dari manajemen
tersebut, yaitu:
1.
Sebuah
manajemen kelas dapat dikatakan berhasil apabila sesudah itu setiap siswa mampu
untuk terus belajar dan bekerja. Siswa tidak mudah menyerah dan pasif manakala
mereka merasa tidak tahu atau kurang memahami tugas yang harus dikerjakan.
Setidaknya, siswa masih menunjukkan semangat dan gairahnya untuk terus mencoba
dan belajar, meski mereka menghadapi hambatan dan problem yang sulit sekalipun.
2.
Sebuah
manajemen kelas juga dapat dikatakan berhasil apabila setiap siswa mampu untuk
terus melakukan pekerjaan tanpa membuang-buang waktu dengan percuma. Artinya,
setiap siswa akan bekerja secepatnya supaya ia segera dapat menyelesaikan tugas
yang diberikan kepadanya. Hal ini akan membuat siswa mampu menggunakan waktu
belajarnya seefektif dan seefisien mungkin.
C.
Prinsip-Prinsip
Manajemen Kelas
1.
Guru
Harus Hangat dan Antusias
a.
Bertanyalah
tentang kabar siswa-siswi sebelum memulai pelajaran. Cara ini setidaknya dapat
membangun kesan mendalam pada diri siswa dan membuat mereka benar-benar merasa
diperhatikan.
b.
Sediakan
waktu dan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan persoalan-persoalan yang
mereka hadapi, baik mengenai persoalan pelajaran atau persoalan lain.
c.
Berdoalah
untuk mereka. Ketika guru secara khusyuk berdoa untuk siswa dan siswa
mengamininya, maka pada saat itu terjalin hubungan emosional yang kuat antara
guru dengan siswa.
Sedangkan untuk dapat memiliki sikap antusias kepada siswa, maka
ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu:
a.
Tidak
pelit memberikan pujian kepada siswa. Memberi pujian sebelum mengakhiri kelas adalah
suatu hal yang patut untuk dilakukan.
b.
Selalu
berusaha untuk membantu siswa. Berikanlah jalan keluar atas masalah yang
dikemukakan siswa, sekalipun tidak menyangkut dengan pelajaran.
c.
Sering
melakukan sharing pendapat dengan siswa. Ajaklah semua siswa untuk
mengemukakan pendapatnya, jika diantara mereka ada yang sedang mengemukakan
masalah pribadinya.
d.
Menghargai
setiap pendapat siswa. Hargailah setiap pendapat yang dikemukakan oleh siswa
agar tercipta suasana yang akrab di kelas.
2.
Guru
Harus Mampu Memberikan Tantangan
Biasanya
setiap siswa sangat menyukai beberapa tantangan yang mengusik rasa ingin tahu
mereka. Karena itu, guru harus mampu memberikan tantangan yang dapat memancing
antusiasme siswa dalam mengikuti mata pelajarannya.
a.
Lakukan
evaluasi sederhana secara berkala setiap minggu. Apabila hari ini guru
menyampaikan materi suatu pelajaran, maka evaluasi dapat dilakukan pada minggu
yang akan datang.
b.
Selingi
dengan kuis, misalnya guru membuat teka-teki yang bahan-bahannya diambil dari
materi pelajaran. Atau ajaklah siswa untuk belajar di luar kelas sebagai sarana
untuk refreshing.
c.
Kaitkan
dengan dunia luar. Mengaitkan mata pelajaran dengan masalah-masalah lain yang
sifatnya praktis juga dapat menjadi pilihan yang baik bagi para guru untuk
memunculkan tantangan pada diri siswa.
d.
Menggunakan
metode yang variatif. Guru harus menyadari bahwa siswa kemungkinan akan bosan
dan jenuh dengan cara mengajar yang dia terapkan selama ini. Rasa bosan ini
jelas memiliki pengaruh besar pada kemampuan berkonsentrasi siswa, sehingga
guru perlu menggunakan atau mencoba banyak gaya dan metode mengajar dalam
menyampaikan mata pelajaran.
3.
Guru
Harus Mampu bersikap Luwes
Artinya,
di dalam kelas seorang guru tidak harus memosisikan diri sebagai orang yang
serba tahu. Sesekali dalam waktu tertentu, guru juga harus mampu menempatkan
dirinya sebagai orang “saudara”, “orang tua”, maupun “sahabat’ bagi
siswa-siswinya. Pergaulan yang luwes antara seorang guru dengan siswa dapat
menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai.
a.
Memperlakukan
siswa layaknya saudara/anak sendiri. Sebagai seorang saudara, tentu kita tidak
canggung apabila henda meminta bantuan atau diminta bantuan oleh mereka.
b.
Sesekali
panggil siswa dengan panggilan “nak”. Panggilan akrab semacam ini dapat
menimbulkan kesan mendalam dalam diri siswa, semacam perasaan kalau siswa
adalah anak-anaknya sendiri.
c.
Sering
menghabiskan waktu bersama siswa. Bermain bersama di waktu-waktu senggang
bersama siswa juga dapat merenggangkan kita dengan mereka. Hindari bersikap
gengsi yang terlampau kaku kepada siswa. Buang jauh-jauh anggapan bahwa guru
harus selalu menjaga image terhadap para siswanya, sehingga harus membatasi
pergaulan dengannya, selain hanya kepentingan mengajar di dalam kelas.
4.
Beri
Penekanan pada Hal Positif
Perlu
diketahui bahwa dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal
yang positif dan menghindari terlalu fokus pada hal-hal negatif. Dalam kelas,
pandangan dan sikap guru terhadap suatu hal dapat memberikan pengaruh besar
bagi siswa. Hal-hal yang perlu dilakukan guru untuk dapat menumbuhkan sikap
seperti ini:
a.
Jangan
mencela siswa yang berbuat negatif di dalam kelas. Atur waktu di mana guru bisa
berbicara dan menasehati siswa yang bersangkutan tanpa harus mempermalukannya
di depan teman-teman.
b.
Selalu
ingatkan mereka terhadap tujuan dan cita-cita belajarnya, serta kemukakan apa
saja hal-hal yang dapat merusak cita-cita itu.
c.
Berilah
pujian jika ada siswa yang sudah melakukan tindakan-tindakan positif. Jangan
lupa untuk mendorong dan memotivasi siswa-siswi yang lain untuk melakukan hal
serupa.
Kelas yang ideal adalah ketika guru selalu berkonsentrasi pada
hal-hal positif yang dilakukan siswa dan lebih memilih melakukan pendekatan
personal saat harus menangani siswa yang bertindak negatif. Hal-hal di atas
akan menjadikan suasana belajar dalam kelas selalu terjaga dengan baik.
5.
Penanaman
Disiplin Diri
Tujuan akhir
dari pengelolaan kelas adalah bagaimana agar anak didik dapat mengembangkan
sikap disiplin dengan baik. Begitu pula halnya dengan guru. Untuk mewujudkan
tujuan itu, tentu saja guru harus memberikan teladan yang sesuai. Seorang guru
tidak mungkin dapat mengelola kelas dengan baik jika mereka juga kurang
disiplin. Tunjukkan kepada siswa bahwa guru mereka juga menjunjung tinggi sikap
disiplin dengan mempraktikkannya secara langsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar