Kamis, 03 Juni 2021

Manajemen Kelas

 

Nama                           : Jamaliah

NIM                            : 11901127

Kelas                           : PAI 4A

Makul                          : Magang 1

Dosen Pengampu        : Farninda Aditya, M.Pd.

 

Manajemen Kelas

A.  Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen kelas berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari kata bahasa Inggris yaitu management, yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sementara yang dimaksud kelas secara umum diartikan sebagai sebagai sekelompok peserta didik yang ada pada waktu yang sama menerima pembelajaran yang sama dari pendidik yang sama. Sebagian pengamat yang lain mengartikan kelas menjadi dua pemaknaan, yaitu: Pertama, kelas dalam arti sempit, yaitu berupa ruangan khusus, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam hal ini mengandung sifat-sifat statis, karena sekedar menunjuk pada adanya pengelompokan siswa berdasarkan batas umur kronologis masing-masing. Kedua, kelas dalam arti luas, yaitu suatu masyarakat kecil yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara kreatif untuk mencapai tujuan.

Dengan demikian, manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik dengan baik. Menurut Sudarman Danim, manajemen kelas yaitu:

1.    Manajemen kelas adalah seni atau praktis (praktik dan strategi) kerja, yaitu pendidik bekerja secara individu, dengan atau melalui orang lain (semisal bekerja dengan sejawat atau peserta didik sendiri) untuk mengoptimalkan sumber daya kelas bagi penciptaan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Di sini sumber daya kelas merupakan instrument, proses pembelajaran sebagai inti, dan hasil belajar sebagaimana mestinya.

2.    Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal dengan sejawat atau peserta didik) untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Kata perencanaan di sini merujuk pada perencanaan pembelajaran dan unsur-unsur penunjangnya. Pelaksanaan bermakna proses pembelajaran, sedangkan evaluasi bermakna evaluasi pembelajaran. Evaluasi di sini terdiri dua jenis. Evaluasi di sini terdiri dari dua jenis, yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil pembelajaran.

3.    Manajemen kelas adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan yang dilakukan oleh pendidik, baik individual maupun dengan atau melalui orang lain (semisal sejawat atau peserta didik) untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien, dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang ada.

Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa dalam mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif tidak terlepas dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, serta memanfaatkan sumber daya-sumber daya secara optimal.

Manajemen atau pengelolaan kelas telah mengalami pergeseran secara paradigmatik meskipun esensi dan tujuannya relatif sama, yaitu terselenggaranya proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Efisien dan efektivitas pembelajaran diukur menurut nilai-nilai pendidikan yang dianut dewasa ini. Adapun nilai-nilai yang dimaksud bisa nilai-nilai perjuangan, kognitif, afeksi, solidaritas sosial, moralitas, keagamaan, dan sebagainya yang dikaitkan dengan sumber daya yang digunakan.

Berdasarkan pendekatan operasional menurut Weber, manajemen kelas adalah:

1.    Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin.

2.    Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi.

3.    Seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa.

4.    Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk yang telah disajikan.

5.    Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yanag bermutu dan dilaksanakan dengan baik.

6.    Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan.

7.    Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosioemosional kelas yang positif.

8.    Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.

Berdasarkan definisi tersebut, maka kegiatan manajemen kelas meliputi: mempertahankan ketertiban kelas, memaksimalkan kebebasan siswa dalam konteks pembelajaran, perencanaan pembelajaran, mengembangkan tingkah laku positif peserta  didik, mengembangkan hubungan interpersonal dan mewudkan iklim sosioemosional yang positif. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif dan kreatif.

 

B.  Tujuan Manajemen Kelas

Manajemen kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu, manajemen kelas juga bertujuan untuk menciptakan suasana kelas yang nyaman untuk tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dengan demikian, proses tersebut akan dapat berjalan dengan efektif dan terarah, sehingga cita-cita pendidikan dapat tercapai demi terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas.

Adapun kegiatan pengelolaan fisik dan pengelolaan sosio-emosional merupakan bagian dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan belajar siswa. Ketercapaian tujuan pengelolaan kelas seperti dikemukakan oleh A. C. Wraag dapat dideteksi atau dilihat dari: “Anak-anak memberikan respon yang setimpal terhadap perlakuan yang sopan dan penuh perhatian dari orang dewasa atau guru. Mereka akan bekerja dengan rajin dan penuh konsentrasi dalam melakukan tugas-tugasnya yang sesuai dengan kemampuannya.”

Tujuan manajemen kelas menurut Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen adalah:

1.    Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.

2.    Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terjadinya interaksi pembelajaran. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.

3.    Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individualnya.

Apabila tujuan dari manajemen kelas sudah tercapai, maka ada dua kemungkinan yang akan dialami oleh siswa sebagai indikator keberhasilan dari manajemen tersebut, yaitu:

1.    Sebuah manajemen kelas dapat dikatakan berhasil apabila sesudah itu setiap siswa mampu untuk terus belajar dan bekerja. Siswa tidak mudah menyerah dan pasif manakala mereka merasa tidak tahu atau kurang memahami tugas yang harus dikerjakan. Setidaknya, siswa masih menunjukkan semangat dan gairahnya untuk terus mencoba dan belajar, meski mereka menghadapi hambatan dan problem yang sulit sekalipun.

2.    Sebuah manajemen kelas juga dapat dikatakan berhasil apabila setiap siswa mampu untuk terus melakukan pekerjaan tanpa membuang-buang waktu dengan percuma. Artinya, setiap siswa akan bekerja secepatnya supaya ia segera dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini akan membuat siswa mampu menggunakan waktu belajarnya seefektif dan seefisien mungkin.

 

C.  Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas

1.    Guru Harus Hangat dan Antusias

a.    Bertanyalah tentang kabar siswa-siswi sebelum memulai pelajaran. Cara ini setidaknya dapat membangun kesan mendalam pada diri siswa dan membuat mereka benar-benar merasa diperhatikan.

b.    Sediakan waktu dan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, baik mengenai persoalan pelajaran atau persoalan lain.

c.    Berdoalah untuk mereka. Ketika guru secara khusyuk berdoa untuk siswa dan siswa mengamininya, maka pada saat itu terjalin hubungan emosional yang kuat antara guru dengan siswa.

Sedangkan untuk dapat memiliki sikap antusias kepada siswa, maka ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu:

a.    Tidak pelit memberikan pujian kepada siswa. Memberi pujian sebelum mengakhiri kelas adalah suatu hal yang patut untuk dilakukan.

b.    Selalu berusaha untuk membantu siswa. Berikanlah jalan keluar atas masalah yang dikemukakan siswa, sekalipun tidak menyangkut dengan pelajaran.

c.    Sering melakukan sharing pendapat dengan siswa. Ajaklah semua siswa untuk mengemukakan pendapatnya, jika diantara mereka ada yang sedang mengemukakan masalah pribadinya.

d.   Menghargai setiap pendapat siswa. Hargailah setiap pendapat yang dikemukakan oleh siswa agar tercipta suasana yang akrab di kelas.

2.    Guru Harus Mampu Memberikan Tantangan

Biasanya setiap siswa sangat menyukai beberapa tantangan yang mengusik rasa ingin tahu mereka. Karena itu, guru harus mampu memberikan tantangan yang dapat memancing antusiasme siswa dalam mengikuti mata pelajarannya.

a.    Lakukan evaluasi sederhana secara berkala setiap minggu. Apabila hari ini guru menyampaikan materi suatu pelajaran, maka evaluasi dapat dilakukan pada minggu yang akan datang.

b.    Selingi dengan kuis, misalnya guru membuat teka-teki yang bahan-bahannya diambil dari materi pelajaran. Atau ajaklah siswa untuk belajar di luar kelas sebagai sarana untuk refreshing.

c.    Kaitkan dengan dunia luar. Mengaitkan mata pelajaran dengan masalah-masalah lain yang sifatnya praktis juga dapat menjadi pilihan yang baik bagi para guru untuk memunculkan tantangan pada diri siswa.

d.   Menggunakan metode yang variatif. Guru harus menyadari bahwa siswa kemungkinan akan bosan dan jenuh dengan cara mengajar yang dia terapkan selama ini. Rasa bosan ini jelas memiliki pengaruh besar pada kemampuan berkonsentrasi siswa, sehingga guru perlu menggunakan atau mencoba banyak gaya dan metode mengajar dalam menyampaikan mata pelajaran.

3.    Guru Harus Mampu bersikap Luwes

Artinya, di dalam kelas seorang guru tidak harus memosisikan diri sebagai orang yang serba tahu. Sesekali dalam waktu tertentu, guru juga harus mampu menempatkan dirinya sebagai orang “saudara”, “orang tua”, maupun “sahabat’ bagi siswa-siswinya. Pergaulan yang luwes antara seorang guru dengan siswa dapat menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai.

a.    Memperlakukan siswa layaknya saudara/anak sendiri. Sebagai seorang saudara, tentu kita tidak canggung apabila henda meminta bantuan atau diminta bantuan oleh mereka.

b.    Sesekali panggil siswa dengan panggilan “nak”. Panggilan akrab semacam ini dapat menimbulkan kesan mendalam dalam diri siswa, semacam perasaan kalau siswa adalah anak-anaknya sendiri.

c.    Sering menghabiskan waktu bersama siswa. Bermain bersama di waktu-waktu senggang bersama siswa juga dapat merenggangkan kita dengan mereka. Hindari bersikap gengsi yang terlampau kaku kepada siswa. Buang jauh-jauh anggapan bahwa guru harus selalu menjaga image terhadap para siswanya, sehingga harus membatasi pergaulan dengannya, selain hanya kepentingan mengajar di dalam kelas.

4.    Beri Penekanan pada Hal Positif

Perlu diketahui bahwa dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari terlalu fokus pada hal-hal negatif. Dalam kelas, pandangan dan sikap guru terhadap suatu hal dapat memberikan pengaruh besar bagi siswa. Hal-hal yang perlu dilakukan guru untuk dapat menumbuhkan sikap seperti ini:

a.    Jangan mencela siswa yang berbuat negatif di dalam kelas. Atur waktu di mana guru bisa berbicara dan menasehati siswa yang bersangkutan tanpa harus mempermalukannya di depan teman-teman.

b.    Selalu ingatkan mereka terhadap tujuan dan cita-cita belajarnya, serta kemukakan apa saja hal-hal yang dapat merusak cita-cita itu.

c.    Berilah pujian jika ada siswa yang sudah melakukan tindakan-tindakan positif. Jangan lupa untuk mendorong dan memotivasi siswa-siswi yang lain untuk melakukan hal serupa.

Kelas yang ideal adalah ketika guru selalu berkonsentrasi pada hal-hal positif yang dilakukan siswa dan lebih memilih melakukan pendekatan personal saat harus menangani siswa yang bertindak negatif. Hal-hal di atas akan menjadikan suasana belajar dalam kelas selalu terjaga dengan baik.

5.    Penanaman Disiplin Diri

Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah bagaimana agar anak didik dapat mengembangkan sikap disiplin dengan baik. Begitu pula halnya dengan guru. Untuk mewujudkan tujuan itu, tentu saja guru harus memberikan teladan yang sesuai. Seorang guru tidak mungkin dapat mengelola kelas dengan baik jika mereka juga kurang disiplin. Tunjukkan kepada siswa bahwa guru mereka juga menjunjung tinggi sikap disiplin dengan mempraktikkannya secara langsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar